Selokan di depan rumah adalah urusan satu RT: drainase lingkungan dan banjir kecil yang berulang
Genangan yang datang tiap hujan deras jarang disebabkan oleh satu rumah. Ia hasil dari puluhan keputusan kecil di sepanjang saluran yang sama, dan karena itu penyelesaiannya pun harus bersama.

Ada jenis banjir yang tidak masuk berita: air setinggi mata kaki yang menggenangi jalan lingkungan selama satu atau dua jam setiap kali hujan deras, lalu surut sendiri. Ia tidak merusak rumah, tetapi merendam motor yang parkir, membawa sampah ke teras, dan lama-lama membuat lantai rumah di sisi yang lebih rendah selalu lembap. Genangan semacam ini hampir selalu berasal dari drainase lingkungan yang tidak lagi berfungsi sebagai satu sistem.
Saluran air di depan rumah terlihat seperti milik masing-masing rumah, tetapi sebenarnya ia adalah satu rantai. Air dari rumah di hulu harus lewat di depan rumah di hilir. Satu titik yang tersumbat, menyempit, atau terputus membuat seluruh bagian di atasnya meluap. Dan di banyak kampung serta perumahan lama, titik-titik seperti itu bertambah setiap tahun tanpa ada yang memperhatikan.
Baca juga: Lebar gang dan mobil pemadam: akses jalan sebagai soal keselamatan rumah
Bagaimana saluran lingkungan rusak pelan-pelan
Polanya berulang di banyak tempat. Satu rumah menutup selokan dengan cor beton agar bisa parkir mobil, tanpa menyisakan lubang kontrol, dan sejak itu bagian itu tidak pernah bisa dibersihkan. Rumah lain meninggikan lantai dan halaman saat renovasi, sehingga air yang dulu diserap halaman kini mengalir ke jalan. Rumah ketiga memasang pipa pembuangan dapur langsung ke selokan, membawa minyak dan sisa makanan yang mengendap. Di ujung gang, tukang bangunan membuang sisa adukan semen ke saluran. Tidak ada satu pun yang berniat membuat banjir, tetapi hasil gabungannya adalah saluran yang kapasitasnya tinggal sebagian.
Penyebab lain adalah ketinggian. Jalan lingkungan yang diaspal berulang kali bisa menjadi lebih tinggi daripada lantai rumah di sisinya, sehingga air dari jalan justru mengalir ke teras. Dan saluran lingkungan bermuara ke saluran yang lebih besar, yang kalau ikut penuh, membuat air di hulu tidak punya tempat pergi sama sekali.
Yang bisa dikerjakan warga tanpa menunggu siapa pun
Langkah pertama adalah memetakan. Berjalanlah bersama beberapa tetangga saat hujan, atau segera setelahnya, dan catat di mana air berhenti mengalir. Titik genangan tertinggi biasanya tepat di hulu dari sumbatan. Dari situ, pengurus lingkungan bisa mengajak pemilik rumah yang selokannya tertutup untuk membuka lubang kontrol, dan menjadwalkan pengerukan bersama sebelum musim hujan berikutnya, bukan di tengahnya.
Langkah kedua adalah kesepakatan sederhana untuk renovasi ke depan: setiap penutupan selokan harus menyisakan akses, dan setiap peninggian halaman diimbangi dengan sumur resapan atau permukaan yang masih menyerap air. Aturan tidak tertulis ini bekerja kalau semua orang melihat gunanya, dan cara terbaik menunjukkannya adalah hasil satu musim hujan tanpa genangan.
Bagi yang sedang mencari rumah, tanda lingkungan yang drainasenya terawat mudah dikenali: selokan terbuka atau punya lubang kontrol berjarak teratur, airnya mengalir meski sedang tidak hujan, dan warga bisa menyebut kapan terakhir kali dikeruk. Lingkungan yang sanggup mengurus selokannya sendiri biasanya sanggup mengurus hal-hal lain juga.