Menyewa rumah dari kerabat: perjanjian tertulis justru menjaga hubungan keluarga
Kontrak bukan tanda curiga; ia tanda sayang jangka panjang.

Rumah milik paman yang kosong, rumah warisan yang ditempati salah satu saudara, rumah mertua yang disewakan kepada menantu dengan harga keluarga. Pengaturan seperti ini sangat lazim, dan banyak yang berjalan damai selama puluhan tahun. Namun dari semua jenis sewa, sewa antar kerabat adalah yang paling sering berakhir dengan hubungan keluarga yang retak, justru karena semua pihak merasa tidak pantas membicarakan hal-hal yang akan dibicarakan dengan orang asing.
Mengapa kesepakatan lisan tidak cukup
Baca juga: Rayap, tikus, dan kecoak di rumah sewa: siapa yang bertanggung jawab dan pencegahan yang murah
Masalah sewa keluarga jarang muncul di antara dua orang yang membuat kesepakatan. Ia muncul ketika salah satunya meninggal dan ahli warisnya punya pemahaman yang berbeda. Ia muncul ketika rumah hendak dijual dan penyewa merasa sudah berhak karena telah merawatnya bertahun-tahun. Ia muncul ketika yang menyewakan berubah keadaan keuangannya dan ingin menaikkan harga, tetapi tidak enak hati mengatakannya.
Perjanjian tertulis menyelesaikan semua itu sebelum terjadi. Ia tidak perlu rumit: siapa menyewakan, siapa menyewa, berapa, dibayar kapan dan bagaimana, berapa lama, dan apa yang terjadi bila salah satu pihak ingin mengakhirinya. Satu halaman, ditandatangani keduanya, salinan untuk masing-masing.
Hal-hal yang khusus perlu ditulis
Pertama, status perbaikan dan renovasi. Kerabat yang menyewa sering merenovasi dengan uang sendiri karena merasa rumah itu setengah miliknya. Tuliskan sejak awal apakah renovasi diizinkan, apakah biayanya diperhitungkan sebagai sewa, dan apakah ada penggantian bila penyewa keluar. Tanpa itu, dapur baru bisa menjadi sumber tuntutan di kemudian hari.
Kedua, hubungan dengan ahli waris. Bila rumah itu milik orang tua dan disewa oleh salah satu anak, saudara-saudara yang lain adalah pihak yang berkepentingan. Beri tahu mereka, dan bila mungkin, minta mereka mengetahui perjanjian itu. Sewa yang diketahui seluruh keluarga jauh lebih aman daripada yang hanya diketahui dua orang.
Ketiga, harga yang jujur. Harga keluarga yang jauh di bawah pasar sering terasa sebagai kebaikan, tetapi bertahun-tahun kemudian bisa terasa sebagai kerugian bagi pemilik dan sebagai hak bagi penyewa. Sepakati harga yang masuk akal, dan sepakati pula kapan dan bagaimana ia bisa ditinjau, agar tidak ada yang harus memulai percakapan yang canggung.
Membayar seperti kepada orang lain
Bayar tepat waktu, lewat transfer yang meninggalkan catatan, dengan keterangan bulan sewa. Minta tanda terima atau setidaknya pesan konfirmasi. Catatan pembayaran yang rapi adalah bukti terbaik bila suatu hari ada yang mempertanyakan apakah sewa pernah dibayar.
Menyewa dari keluarga bisa menjadi pengaturan terbaik yang ada: pemilik yang peduli, penyewa yang merawat, dan rumah yang tetap dalam keluarga. Perjanjian tertulis bukan yang merusaknya. Ia adalah yang menjaganya tetap begitu.